buka hatimu

Pages

Kamis, 23 Agustus 2012

CERPEN [3]


Rains story

Lima tahun yang lalu
saat hujan terus mengguyur disebuah perkampungan yang padat penduduk
Pada hari itu temanku Tony
sedang berada dirumah ku, untuk belajar
bersama, perihal ujian umum yang akan kami
ikuti minggu depan.
Hari..
tampaklah mendung
gelap dan berkabut, rasa dingin yang
menusuk tulang, serta hujan yang tak berhenti
tidak mematahkan semangat kami untuk belajar.
setelah jam tiga sore Tony pun pamit
pulang,ku mengantarnya sampai
di teras depan
"hati hati ya Ton..,sepertinya cuaca makin buruk
saja, jangan sampai terjebak oleh hujan
Ton, sepertinya hujan makin deras,
"Tidak apa apa maya
aku tahu bagai mana menjaga diriku
dan terima kasih atas perhatianmu, aku pulang
dulu ya..."," ok Ton..bye..bye....

Setelah mengenakan jas hujannya Tony pun berlalu
dari hadapanku, hujan deras pun sesaat reda
dan berganti dengan rintik rintik hujan
jalan jalan yang tampak tergenang
oleh air, suasana tampak
sunyi sesaat.
Tapi tiba tiba terdengar
suara bergemuruh, kami pun panik
dan keluar rumah, mecari cari dari mana
sumber suara itu, tidak kami sangka, bangunan rumah
di atas tempat tinggal kami meluncur kebawah, terseret tanah
yang longsor,seketika itu juga rumah kami pun
hancur, dan terseret oleh tanah yang mengalir

seperti air, kami pun panik, dan tak
berfikir panjang lagi ayahku menarik tanganku
untuk segera menjauh dari tempat itu,genangan air dan
lumpur yang harus kami lalui, tanpa sandal atau pun sepatu
kejadian itu sungguh mengerikan

Dalam sekejap saja kampung kami telah lenyap
tak satu harta benda yang sempat kami selamatkan, semua
telah terbawa oleh arus banjir dan longsor, termasuk dengan semua
alat persiapan ujianku, semua telah musnah.
Ku anya duduk tertegun
di sebuah batu, dengan baju yang
bergambarkan penuh lumpur, rintik hujan pun
masih membasahi, tanpa ada kata dari kami, hanya isak
tangis yang ter
dengar, di antara sunyi
kejadian waktu itu seperti mimpi
Harta benda bahkan anggota keluarga,
telah terenggut oleh keganasan badai marikot
wajah -wajah lelah, di topang oleh jemari yang kian renta
Semua telah hilang
itulah yang menjadi kenyataan
*****************
Hari ini kami memulai hidup yang baru, tak ada lagi yang
bisa kami temukan, diantara puing-puing dan
serpihan sisa-sisa badai, dengan
tertatih kami meninggalkan
kampung yang telah
musnah itu...,
Seribu wajah duka disetiap orang
yang ku temui, disepanjang jalan dunia
benar-benar menangis pada saat itu.
Kini kami tinggal disebuah kota,
tak satu pun benda yang kami punya
saat itu kami tinggal dirumah saudara ayah
dari sini kami memulai dari titik nol, kami harus bekerja
keras.
********
Lima tahun telah berlalu, saat itu aku sedang turun dari
bis dalam perjalanan pulang, hujan turun begitu
lebat, sehingga aku memilih menunggu
hujan reda dihalte bis itu, lama ku
menunggu, hujan pun msih
begitu derasnya.
Aku pun memutuskan untuk pulang menembus deras
hujan tanpa payung, saat aku berjalan beberapa
langkah, sebuah tangan menggapaiku
dari belakang, ku terpaku saat
aku membalikan tubuhku
sesosok yang pernah
kukenal 5 tahun
yang lalu.
bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar