buka hatimu

Pages

Sabtu, 25 Agustus 2012

Gadaikan Cinta Seharga Pulsa



Gadaikan Cinta Seharga Pulsa



Sari di usia yang ke35 tahun mulai menginjakan kaki di negri Formosa. Dengan bekal keberanian dan ketekadan, serta bahasa yang kurang faham sepenuhnya, telah mengantarkannya sampai ke negri Formosa. Dan berkat bantuan PT ternama, sari dianter pihak agensi sampai kerumah majikannya. Tempat dimana Sari memulai pekerjaan yang baru.

Semua tersa asing baginya, bahasa, tempat tinggal, adat dan kebiasaan dilingkungan baru membuatnya membuatnya sangat gagu. Tapi Sari sangatlah beruntung, Karena telah mendapatkan majikan yang baik.Hari demi hari pun berlalu, dan bulan pun berganti. 6 bulan sudah Sari bekerja dirumah majikannya itu, dengan jabatan sang penjaga akong. Hal ini tentu membuatnya nyaman dan santai, karena serumah cuman berdua saja dengan akong, apa lagi akong yang Sari jaga masih bisa berjalan sendiri.

Dipagi yang cerah itu mentari mengembangkan senyumnya, menerobos disetiap celah-celah dedaunan dan semua yang ada dibumi.Seperti biasa akong dan sari sudah bersiap-siap untuk menikmati udara pagi ditaman. Akong yang masih bisa berjalan sendiri tampak berjalan didepan sari, dengan sahabat tongkatnya yang setia tergenggam ditangannya, Dan Sari hanya mengikutinya dari belakang saja. Sambil asyik dengan ceramah paginya di HP, yang dilengkapi dengan perangkat headset-nya, Sari ngobrol di HP sambil tertawa-tertawa sendiri.

Tiba-tiba suara dari belakang pun mengejutkannya, dengan reflek sari pun menoleh kebelakang. Seorang lelaki setengah baya yang tak asing baginya tersenyum dibelakangnya. Oooo...., se ni a.." Lelaki itu tidak menjawab, malah memberikan isyarat kepada sari untuk tidak berbicara terlalu keras. " Sssstttt..." sambil jemarinya menunjuk kearah akong yang berjalan didepan sari. Dengan tersenyum sari pun mengangguk mengerti.

Diambilnya sesuatu dari balik saku lelaki itu. Secarik kertas bertuliskan nomer HP diberikan kepada sari." Ceke wo ge ni, ni sow hau, ni ta tien hua gei wo, wo huei gei ni jien.." berlahan Sari pun mengambil kertas yang diulurkan oleh lelki itu. Sari sudahlah paham dengan orang tersebut, karena setiap kali Sari keluar rumah Sari juga sering melihatnya. Dia adalah tetangga majikan Sari yang sebagian rumahnya disewakan untuk pertokoan dipinggir jalan itu. Dan dia terkenal dengan sebutan bang-bang karena perutnya yang gendut. Setelah memberikan kertas itu bang-bang punberlalu pergi sambil memberikan sarat kepada sari untuk menelponya nanti.

Sempat terbersit dipemikiran Sari akan maksud si bang-bang , dan sebuah pertanyaan dalam hatinya," Mungkinkah si bang-bang....? Ah...!"

" Siapa sih mbak? suara disebrang bertanya kepada Sari, " Oh.., itu lo si gendut ngasih nomer telepon ke aku" Jawab Sari." Oh..., jangan -jangan ngajak janjian tuh..."

" Ha...ha...ha..., tawa lantang pun keluar dari mulut Sari dan temannya yang ngobrol di HP itu.

Hari pun beranjak sore, sang surya pun berkemas menuju keperaduannya, dan hanya meninggalkan coreta-coretan jingganya. Bertanda malam akan datang sebagai penggantinya. Pekat pun menyelimuti, hanya cahaya lampu disetiap rumah yang menyala, bertanda sang penghuni masih belum memejamkan mata. Sari yang sedang menemani akong menonton TV diruang tamu pun beranjak dari tempat duduknya. Dia inget akan sesuatu, yang dia dapat dipagi hari tadi. Sebuah kertas bertuliskan nomer telepon diambilnya dari kantond saku bajunya yang tertumpuk ditempat pencucian baju . Dengan penasaran Sari men-dial beberapa nomer itu, dan dari seberang pun suara menjawab.

" Hallo...hallo..."

" Hey....bang-bang se wo lah ..Sari.."

" Oh.. se ni o.... ceke se ni te hauma ma..?

" ching wen.., ni suo.. ru guo wo ta geni, ni suo yau gei wo jien, se semo ise a..? tanya Sari pada sibang-bang.

" Sea... wo huei geni jien na.."

" Seme jien a...? tanya Sari yang makin penasaran. dan ingin memastikan apa maksud bang-bang yang mau memberikan uang padanya bila dia mau bertemu dengannya.

" Wo hen u liaw, ni yau tang wote bengyou ma..? wo huei gei ni hentuo jien" lanjut sibang-bang.

" O...ceyang ce...,siencai wo meiyou tien huaka ni ta gei wo hau-puhau..?

"O...hau-hau..., bang-bang mengerti maksud Sari.

Kemudian Sari mrmutuskan sambungan teleponnya. Tak lama kemudian HP Sari pun berdering kembali, dan berlahan sari menjawab panggilan dari sibang-bang. Hallo..,halllo.., "

" Sari..a., ni seme se hou keyi ju ji..? Wo huei geni jien..."

" Ni yau gei wo tuo saw? selidik Sari pada sibang-bang.

" Women ju ji chai suo, hau pu hau..? Ni yau tuo saw wo huei geni. Ni cau sejien, wo tai ni ji kuang-ikuang, Ni mei you tien hua ka wo ye huei may gei ni te..,hau-pu hau..? tanya bang-bang menyakinkan sari.

" Wo siang-isiang isialah.." tukas sari.

Sari pun menutup teleponnya, dia kembali berfikir akan maksud dari sibang-bang yang menjanjikan sejumlah uang bila Sari mau diajaknya jalan-jalan. Dia pun berjanji akan memberikan kartu telepon buat Sari. juga memberikan uang berapapun jumlahnya sesuai permintaan Sari.

Sekarang sepertinya suara satu hati sari berbeda pendapat. Berkecamuk didalam dada dan pikiran sari, yang masing-masing berbisik berlawanan. Sari pun berfikir lama untuk memastikan kata hati. Dan kata hati mana yang harus dia turuti.



Bersambung di edisi selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar